Work & Holiday Visa Australia: Apa & Bagaimana

Tulisan ini dibuat pada akhir Juni 2017. Sangat disarankan untuk mengecek situs resmi di sini untuk informasi yang lebih mutakhir.

Akhirnya sempat juga nulis topik ini. Singkatnya begini, pada pertengahan 2016 saya memulai petualangan di negeri kangguru, Australia. Bukan untuk sekolah, bekerja, apalagi pindah karena mendapatkan status permanent residency akibat menikahi orang sana (*maaf jika imajinasinya terlalu jauh). Melainkan untuk ‘bekerja dan berlibur’ atau dalam bahasa Inggris: “Work & Holiday”. Itulah istilah yang digunakan pada visa yang saya kantongi selama hidup di sana.

Dan sebagai tulisan pembuka, kini saya akan membahas tentang perkenalan atau introductory mengenai program Work & Holiday Visa. Semoga saja dapat membantu memberikan gambaran bagi mereka yang sedang mempertimbangkan untuk mengambil program ini, terlepas dari apapun motivasinya. Jalan-jalan, menimbun Dollar, mengunjungi kerabat atau pacar, apapun itu!

Australia, here we come!

 

Apa itu WHV?

Sesuai namanya Work & Holiday Visa adalah visa yang memperbolehkan pejalan untuk bekerja sekaligus berlibur selama 1 tahun di Australia. Mau berlibur selama 1 tahun penuh, silakan. Atau jika lebih tertarik mendulang Dollar selama setahun pun boleh. Setengah-setengah juga oke. Bahkan mau keluar-masuk Australia dalam periode satu tahun itu pun dimungkinkan.

Selain itu perlu dicatat, ada batasan bahwa pejalan hanya bisa bekerja (secara legal dan kena pajak) pada 1 employer selama 6 bulan. Itu jelas saya tuliskan ‘secara legal’ ya, untuk diinterpretasikan sendiri. Oh iya, visa ini juga memperbolehkan pemegangnya untuk studi selama 4 bulan. Dengan itu, maka jelas bahwa WHV bukanlah visa pekerja ataupun pelajar. Meski dimungkinkan untuk menjadi keduanya secara temporer.

Dari kacamata saya sebagai pejalan, ini adalah visa yang memperbolehkan seseorang mengeksplor Australia sembari bekerja – yang uangnya bisa digunakan untuk membiayai perjalanan selama di sana. Definisi lain yang bisa saya sematkan adalah visa bagi yang tidak terlalu pintar (*atau “kurang beruntung” demi memperhalus) untuk mendapat beasiswa plus biaya hidup. Iya, seperti saya ini yang gagal mendapatkannya. Hahaha.

Namun poinnya sama, baik itu dari kacamata pejalan atau beasiswa gagal. Setidaknya bisa merasakan pengalaman tinggal di Australia tanpa harus menguras rekening karena ada kesempatan untuk bekerja selagi traveling. Atau sukur-sukur bisa menabung, sehingga ketika selesai justru membawa beberapa peser Dollar untuk bekal hidup selanjutnya.

Telah disebutkan bahwa periode WHV ini adalah satu tahun. Itu adalah periode default-nya. Pejalan bisa keluar masuk Australia selama periode tersebut, dengan waktu yang dihitung sejak pertama kali melewati proses imigrasi di bandara Australia (bukan sejak pertama kali visa tersebut diterbitkan).

Dulu, visa ini tidak memiliki opsi perpanjangan seperti halnya yang bisa dilakukan oleh rekan-rekan pejalan dari negara lain. Namun kabar baiknya, sejak tahun 2017 pemegang WHV dapat mengajukan perpanjangan selama 1 tahun dengan melengkapi berbagai persyaratan. Jadi total waktu maksimal yang dimungkinkan adalah 2 tahun.

Sedangkan dari sisi kuota, jumlah orang yang bisa mendapatkan visa ini adalah 1,000 orang per periode Per Juni 2017, saya mengecek website imigrasi dan mendapatkan informasi bahwa kuota periode tersebut telah terpenuhi dan baru akan dibuka kembali pendaftarannya pada Juli 2017. Maka ada baiknya untuk mendaftar pada periode awal atau ketika kuota masih tersedia.

 

Syarat Pengajuan Work & Holiday Visa

Saya berpendapat ada satu hal paling penting nan esensial yang harus dimiliki sebelum mengajukan Work & Holiday Visa ini, yaitu: “KEMAUAN MEMBACA”. Hahaha. Ayolah, jangan manja, terlalu rajin bertanya tanpa membaca habis, malas menggunakan common sense, ataupun enggan mencoba mengulik informasi mandiri dari berbagai sumber ketika kebingungan. Jika mau jujur, sebenarnya sumber informasi berupa website resminya pun sudah cukup jelas.

Saya akan rangkumkan tentang syarat dan dokumen yang harus disiapkan untuk pengajuan WHV yang diambil dari situs resmi kedutaan Australia di Indonesia serta Dirjen Imigrasi:

  1. Berumur 18 – 30 tahun ketika mengajukan aplikasi
  2. Formulir identitas untuk imigrasi serta formulir aplikasi (Form 1208) untuk kedutaan Australia yang bisa di-download di website masing-masing
  3. Kartu identitas (KTP)
  4. Akta Lahir
  5. Paspor dengan masa berlaku minimal 12 bulan, berikut cap masuk ke negara sebelumnya (jika ada)
  6. Foto-paspor standar dengan warna latar putih
  7. Bukti kepemilikan setidaknya AUD $5,000 dari bank (bank statement). Jika bukan atas nama pribadi, diharuskan melampirkan surat sponsor atau jaminan dari pemilik rekening dengan fotokopi identitas
  8. Ijazah D3 atau S1. Dimungkinkan juga jika masih kuliah setidaknya selama 2 tahun (silakan cek sumber untuk persyaratan detilnya)
  9. Sertifikat Bahasa Inggris IELTS (skor minimal 4.5) atau TOEFL IBT (skor minimal 12). Kecuali bagi mereka yang bahasa pengantar di kelasnya adalah Bahasa Inggris, yang dibuktikan dengan surat keterangan dari kampus
  10. Surat rekomendasi dari Direktorat Jenderal Imigrasi Indonesia
  11. Pemeriksaan kesehatan di rumah sakit terpilih, termasuk juga rontgen

Sumber:

*http://indonesia.embassy.gov.au/jakt/Checklist_WHol.html
*http://www.imigrasi.go.id/index.php/en/layanan-publik/rekomendasi-work-and-holiday-visa#persyaratan

Untuk poin 1-9 wajib dipenuhi sejak awal pengajuan. Sedangkan poin nomor 10 (surat rekomendasi) didapatkan ketika sudah sukses melewati fase wawancara di Dirjen Imigrasi. Lalu poin no 11 merupakan fase terakhir yang harus dilakukan setelah mengajukan permohonan ke agen visa VFS Global. Hal ini dijelaskan lebih jauh pada bagian “Prosedur” di bawah.

Sedikit mengelaborasi lebih jauh, jadi proses pengajuan visa tidak diajukan secara langsung ke Kedutaan Australia. Melainkan lewat satu perusahaan yang telah ditunjuk untuk memproses aplikasi tersebut. Namanya adalah VFS Global. Untuk lebih jelasnya bisa cek tautan berikut.

 

Prosedur

Siapkan dokumen-dokumen yang telah dijelaskan sebelumnya. Dari banyak dokumen tersebut, yang rasanya cukup menantang adalah sertifikat Bahasa Inggris ataupun kepemilikan $ 5,000 bagi yang belum memilikinya.

Saran saya terkait sertifikasi Bahasa Inggris, siapkan registrasi jauh-jauh hari karena tidak bisa dilakukan dadakan dan hasil tesnya pun harus menunggu. Berdasarkan pengalaman pribadi, setidaknya diperlukan waktu beberapa hari hingga beberapa minggu sebelumnya untuk sekadar mem-book kursi tes IELTS. Lalu seusai tes, diperlukan waktu tidak kurang dari 13 hari (2 minggu) hingga hasil tes bisa keluar. Tanpa sertifikat ini maka proses tidak bisa dimulai sama sekali.

Sedangkan untuk uang, silakan hubungan bank dan meminta surat keterangan yang menunjukkan kepemilikan jumlah tersebut. Ini bukan saran yang mutlak harus dituruti, namun jika Anda bisa sekaligus menunjukkan mutasi selama 2 bulan terakhir (bahwa jumlah uang yang mengendap memang sudah di sana, tidak mendadak muncul hasil minta bantuan sana-sini di hari-hari mendekati wawancara) rasanya peluangnya semakin besar. Sekali lagi, hal terkait mutasi rekening bukan hal mutlak. Namun poinnya adalah: siapkan jumlah tersebut jauh-jauh hari jika kebetulan belum memilikinya.

Lalu daftarlah wawancara di website imigrasi. Proses pendaftaran juga terkait dengan sisa kuota yang ada di periode tersebut. Jika sudah habis, maka Anda harus menunggu periode berikutnya. Ketika mendaftar, pastikan soal lokasi wawancara. Karena ada banyak lokasi di berbagai daerah.

Seusai mendaftar, maka bersabarlah (kadang hitungan hari, minggu, ada juga yang bulan) hingga mendapat panggilan wawancara lewat surel atau jadwal tersebut muncul di website imigrasi. Berikut adalah tautan untuk website imgirasi, atau Anda dapat mencarinya sendiri di Google in case tautan ini sudah tidak digunakan.

Dan tibalah hari wawancara. Dalam kasus saya, jeda waktu dari diterimanya surel panggilan ke wawancara adalah 9 hari. Saran praktisnya: datanglah sepagi mungkin. Ya tidak perlu sampai menginap di kantor imigrasi, tapi sekitar jam 8 sudah cukup baik. Dikarenakan panjangnya antrian dari para pengincar Work & Holiday Visa lainnya. Jangan lupa bawa dokumen asli dan kopi.

Selanjutnya tunggulah dirilisnya surat rekomendasi yang akan dikirimkan ke surel. Ada yang langsung mendapatkan di sore hari, di hari yang sama! Sebagian ada yang perlu waktu harian hingga mingguan. Ketika itu saya mendapatkannya dalam waktu 10 hari karena ada miskomunikasi terkait kelengkapan dokumen (jadi mengingatkan sekali lagi: lengkapi dokumen sejak awal!).

Ketika surat rekomendasi dirilis, maka ada keterangan yang menyebutkan bahwa masa berlakunya ‘hanyalah’ 30 hari sejak diterbitkan. Jadi sangat disarankan untuk segera mengurus aplikasi ke VFS Global yang layanannya disebut ‘AVAC’ (Australian Visa Application Service). Baik itu dengan datang langsung di kantornya di Kuningan City (Jakarta), Benoa Square (Bali), lewat travel agent, atau mengirimkan via pos. Untuk keterangan tentang opsi selain datang langsung bisa dicek di website-nya.

Prosedur keamanan di kantor VFS cukup ketat. Jika saya tidak salah, pengunjung tidak bisa membawa barang elektronik termasuk telepon genggam. Hanya boleh membawa dokumen-dokumen yang diperlukan. Di Jakarta, pengunjung bisa menaruh laptop di tempat penitipan dengan biaya sekitar 22 ribu. Cukup mahal untuk membuat saya kehilangan jatah bujet makan siang. Hahaha.

Di kantor VFS ini Anda akan bergabung bersama puluhan atau ratusan orang aplikan lainnya. Terdiri atas agen ataupun pelamar mandiri. Maka tidak heran jika waktu yang dibutuhkan cukup lama. Lebih dari 1 jam, mungkin juga 2 jam. Akan bosan tanpa handphone di tangan. Maka sangat disarankan untuk datang lebih awal dan mengecek jam tutup kantornya agar waktu (dan uang penitipan barang yang mahal itu) tidak terbuang sia-sia.

Biaya pemrosesan visa sekitar 4,8 juta sudah termasuk fee bagi VFS Global. Terlepas dari permohonan visa Anda diberikan atau ditolak, uang tersebut tidak bisa kembali. Jadi sekali lagi, pastikan kelengkapan serta keabsahan dokumen untuk memperbesar kemungkinan diterimanya permohonan visa.

Setelah selesai dengan aplikasi, maka tunggulah surel yang menyatakan bahwa Anda diharuskan melakukan medical checkup. Saya ketika itu mendapatkannya 6 hari setelah mengajukan aplikasi di VFS. Surel tersebut berisikan HAP ID (semacam nomor identitas kesehatan Australia) dan apa saja yang harus dilakukan. Berdasarkan pengalaman saya, pemeriksaan yang dilakukan adalah kesehatan umum, tes urine, dan rontgen dada. Harap dicatat bahwa masa berlakunya instruksi tersebut adalah 7 hari, sehingga disarankan untuk segera melakukan pendaftaran medical checkup begitu mendapatkan surel.

Biaya check-up di tahun 2016 sekitar 760 ribu di satu rumah sakit di kawasan Jatinegara, Jakarta. Usai check-up, tidak ada lagi yang perlu dilakukan. Hasil tersebut akan diteruskan langsung oleh pihak rumah sakit. Dan kita hanya tinggal menunggu proses final dirilisnya visa Work & Holiday. Dalam kasus saya, surel yang memuat keterangan visa granted didapatkan tepat 1 minggu setelah proses medical check up.

Selesai sudah prosesnya! Dan mari berharap yang terbaik untuk aplikasi Anda!

 

Tipikal Pertanyaan

Ada beberapa pertanyaan yang cukup sering ditanyakan oleh mereka yang sedang mempersiapkan diri mengajukan Work & Holiday Visa. Berikut adalah di antaranya:

 

  •  Bagaimana mendapatkan Surat Rekomendasi?

Lihat bagian “Prosedur” di atas. Pada intinya harus mendaftar pada website Dirjen Imigrasi, menunggu keluarnya daftar wawancara di website mereka, melakukan wawancara serta pengecekan berkas, dan jika dianggap memenuhi maka Surat Rekomendasi akan dirilis. Perlu dicatat bahwa Surat Rekomendasi hanya berlaku selama 30 hari setelah dirilis sehingga disarankan untuk segera mengajukan aplikasi ke VFS.

 

  • Apakah dokumen harus difotokopi atau cukup aslinya?

Keduanya diperlikan. Bawa fotokopi dokumen dan aslinya. Setidaknya kopi sebanyak 2 kali untuk diserahkan satu kopi pada pihak Dirjen Imigrasi serta lainnya untuk agen VFS yang mengurus aplikasi visa. Selalu bawa kopi dokumen dan aslinya ketika akan wawancara atau menyerahkan aplikasi.

 

  • Bagaimana jika dokumen tidak lengkap?

Untuk aplikasi di VFS Global tentu jawabannya tidak, karena inilah pintu akhir aplikasi. Namun untuk mendapatkan surat rekomendasi dari Dirjen Imigrasi, saya menebak bahwa ini tergantung pada pihak yang mewawancara, seberapa jauh beliau bisa memberikan toleransi. Berdasarkan pada pengalaman pribadi dan banyak cerita orang lain, ada kemungkinan sebagian dokumen bisa disusulkan. Namun hal tersebut cukup berisiko karena pihak petugas harus mengurus puluhan atau ratusan aplikasi. Sehingga bisa jadi susulan tersebut terlewatkan. Jadi yang paling disarankan adalah lengkapi semua dokumen sejak awal. Untuk mempermudah petugas imigrasi, dan mudah-mudahan memperlancar proses.

 

  • Mana dokumen yang harus di-submit ke Imigrasi dan mana yang ke agen VFS?

Sama ratakan saja keperluan dokumenya. Lengkapi semuanya, lalu simpan dalam satu map. Jangan lupa untuk membawa yang asli dalam proses wawancara dan pengajuan ke agen VFS. Ketimbang kecele atau diminta untuk melengkapi dokumen yang justru memperlambat proses.

 

  • Apakah saya perlu datang ke kedutaan Australia dalam prosesnya?

Setahu saya tidak. Yang harus dilakukan adalah datang ke tempat dilakukannya wawancara dengan pihak Dirjen Imigrasi untuk pemberian surat rekomendasi dan mentok-mentok datang ke VFS Global atau AVAC untuk melakukan aplikasi pengajuan visa. Tetapi saya tidak tahu jika ada kondisi lain yang membuat pelamar datang ke kedutaan.

 

  • Jika umurnya sudah 31 apa masih bisa mengajukan?

Kalau sekadar mengajukan sih bisa saja, tapi mungkin tidak lolos syarat administrasi. Pengecualian jika sudah mendapat visa sebelumnya dan belum berangkat hingga umur 31.

Ada isu yang mengatakan bahwa batasan umur “akan” diperlebar menjadi 18 – 35. Tetapi sampai tulisan ini dirilis, hal tersebut belum diresmikan.

 

  • Boleh dengan sertifikat Bahasa Inggris lainnya? Bagaimana dengan TOEFL atau IELTS yang sifatnya prediction test? TOEFL yang paper-based? Saya kuliah jurusan Bahasa Inggris, tetap perlu sertifikat?

Seperti sudah ditulis, semua harus mengumpulkan sertifikat Bahasa Inggris dalam bentuk tes IELTS atau TOEFL IBT. Tidak ada dispensasi, termasuk juga untuk mereka yang kuliah jurusan Bahasa Inggris. Pengecualian untuk mereka yang kuliah di luar negeri atau yang bahasa pengantarnya Bahasa Inggris. Tetapi sekali lagi, demi kelancaran dan kepraktisan maka saya merekomendasikan untuk kumpulkan sertifikat IELTS.

 

  • Apa saya bisa melakukan tes medical checkup terlebih dahulu untuk menghemat waktu?

Tidak dan jangan. Hanya lakukan tes ketika sudah mendapat instruksi untuk melakukannya. Sayang duit serta Anda belum mendapatkan HAP ID yang diperlukan dalam proses aplikasi.

 

‘Work & Holiday Visa’ (462)! Bukan ‘Working Holiday Visa’ (417)!

Mungkin ini tidak terlalu berdampak banyak, namun cukup esensial. Perlu dicermati bahwa visa yang dapat diajukan oleh orang Indonesia adalah Work & Holiday Visa (subclass 462). Bukan Working Holiday Visa (subclass 417).

Saya pribadi melihat bahwa negara yang berhak atas subclass 462 adalah campuran dari negara maju dan berkembang. Di antaranya ada Indonesia, Amerika Serikat, Spanyol, Cina, Vietnam, dan lainnya. Sedangkan pemegang subclass 417 rasa-rasanya hampir semuanya berasal dari negara maju seperti Jerman, negara Skandinavia, Jepang, Korea, dan lainnya.

Dulu perbedaan yang paling kentara dari kedua visa adalah soal perpanjangan visa. Di mana visa 417 dapat diperpanjang, sedangkan 462 belum bisa. Tetapi seperti yang telah disinggung sebelumnya, sejak awal 2017 visa 462 pun berhak atas perpanjangan visa.

Saya tidak tahu persis soal perpanjangan visa, karena memang tidak mengambil kesempatan tersebut.  Tetapi sejauh yang saya pahami lewat obrolan dan browsing, pemegang visa 417 dapat mendapatkan perpanjangan visa dengan cara bekerja di industri tertentu selama 88 hari (3 bulan). Industri tertentu yang umumnya diambil oleh para pejalan adalah pertanian atau perkebunan (farm job), meskipun dimungkinkan juga bekerja di sektor pertambangan, perikanan, dan lainnya.

Dan untuk visa 462, syaratnya cukup mirip. Hanya saja yang membedakan adalah lokasi dan industrinya. Pertama untuk lokasi, pemegang visa 462 yang ingin memperpanjang visanya diwajibkan untuk bekerja di Australia bagian Utara (Northern Australia), atau secara definitif adalah kawasan di atas garis balik selatan (The Tropic of Capricorn), yang dalam tulisan ini saya tuliskan sebagai ‘Garis Capricorn’ saja agar lebih mudah dan singkat.

Harap dipahami, Australia bagian Utara (Northern Australia) tidaklah sama Teritori Utara (Northern Territory) yang adalah sebutan bagi salah satu ‘wilayah’ (sedikit mirip seperti ‘negara bagian’ tetapi tidak sama)  Australia dengan Darwin sebagai ibu kotanya. Jika Anda browse, maka ada garis yang membagi bumi -termasuk benua Australia- menjadi bagian utara dan selatan. Itulah Garis Capricorn yang dimaksud.

Kawasan yang termasuk di antaranya adalah negara bagian Australia Barat (Western Australia), Teritori Utara (Northern Territory), dan Queensland. Tidak semua area dari negara-negara bagian tersebut adalah terletak di utara Garis Capricorn. Bahkan sebagian besar kota mayor di negara bagian tersebut berada di sisi selatan. Adapun kota mayor yang berada di sisi utara dari garis tersebut di antaranya adalah Darwin dan Alice Springs di Northern Territory serta Cairns di negara bagian Queensland.

Poin kedua selain lokasi adalah jenis industrinya. Pemegang visa 462 diperkenankan untuk memperpanjang visanya dengan bekerja di industri seperti pertanian, perhutanan, perikanan, dan hospitality serta turisme (termasuk hotel dan restoran).

Dengan kata lain, sejauh yang saya pahami pemegang visa 417 bisa mendapatkan kesempatan perpanjangan visa dengan bekerja di manapun di Australia (namun umumnya terbatas pada sektor pertanian). Maka tidak heran jika mungkin Anda berpapasan dengan rekan-rekan yang mendapatkan perpanjangan visa dengan bekerja di perkebunan yang lokasinya dekat dengan kota-kota besar seperti Melbourne, Adelaide, Brisbane, dan lainnya. Sesuatu yang tidak bisa dilakukan oleh pemegang visa 462 yang bermaksud memperpanjang masa visanya.

Di sisi lain, oemegang visa 462 memiliki fleksibilitas untuk tidak harus ‘kerja kasar’ di perkebunan. Tetapi bisa dengan bekerja di sektor turisme, namun lokasinya harus berada di atas Garis Capricorn. Tidak banyak kota besar di kawasan ini selain Darwin (dan Katherine yang tidak terlalu jauh), Alice Springs, Cairns, Townsville, dan lainnya.

Dan sepertinya memang itulah tujuannya, agar para pemegang Work & Holiday Visa ini tidak numplek di daerah kota-kota besar dan sekitarnya. Supaya lebih banyak pasokan tenaga kerja di Australia bagian utara, yang di sisi lain membuat persaingan mendapatkan pekerjaan menjadi sedikit lebih sengit. Tapi itu pun sepertinya menjadi poin seru ketika tinggal di Australia!

 

Hal & Biaya Tambahan

Menuju bagian akhir dari tulisan, saya bermaksud berbagi informasi tentang hal tambahan (berikut biayanya) yang mungkin bisa Anda pertimbangkan terkait lawatan ke Australia.

Pertama adalah paspor elektronik. Terutama bagi mereka yang masa hidup paspornya sudah agak mepet (kurang dari 12 bulan), ada baiknya untuk segera memperbaharui paspornya. Jika ini terjadi pada Anda, maka saya merekomendasikan untuk menggantinya dengan paspor elektronik alih-alih paspor biasa. Keuntungannya ada banyak, mulai dari kemudahan keluar-masuk imigrasi hingga kesempatan untuk mendapatkan bebas visa ke Jepang. Dan tidak menutup kemungkinan juga adanya kebijakan menyusul lainnya yang menguntungkan pemegang paspor elektronik.

Untuk proses penggantian paspor elektronik bisa dicek di tulisan sebelumnya.

Lalu selanjutnya adalah kepemilikan Surat Izin Mengemudi – SIM (driving license) Internasional. Meskipun jujur saja, saya tidak tahu apakah ini valid untuk digunakan di Australia karena saya tidak sempat menggunakannhya. Adapun biaya pembuatan SIM ini adalah 500 ribu Rupiah di tahun 2016 untuk SIM motor dan mobil.

Hal ketiga adalah asuransi perjalanan. Ada baiknya untuk menyiapkan diri untuk kemungkinan yang buruk, seperti jatuh sakit atau semacamnya. Apalagi mengingat biaya kesehatan di Australia tergolong tidak murah. Saya sendiri sempat mempertimbangkan untuk mengambil asuransi kesehatan di Australia, namun ternyata preminya pun tidak murah. Jadilah saya mengambil ‘Asuransi Perjalanan’ (bukan ‘asuransi kesehatan’) untuk meng-cover kemungkinan buruk selama tinggal di Australia. Tentu dengan premi yang jauh lebih murah. Dan benar saja, saya sempat mengajukan klaim karena memiliki masalah kesehatan ketika sedang musim dingin di Melbourne. Tidak sampai turun salju memang, tapi cukup untuk membuat kulit saya alergi super-parah. Maklum, orang tropis. Hehehe. Jadi ingat, bawa baju hangat jika memang salah satu destinasinya ada di sebelah selatan Australia!

Dari berbagai perbandingan yang sudah saya lakukan, cakupan asuransi perjalanan ini memang secara umum cukup luas. Mulai dari kejahatan, kehilangan barang, kecelakaan, hingga masalah kesehatan bisa di-cover. Namun keterbatasan yang paling terasa adalah periodenya yang tidak cukup panjang. Dulu saya hanya menemukan asuransi yang bisa meng-cover maksimal selama 6 bulan hidup di satu negara, dan diharuskan keluar dari negara tersebut jika masih mau ter-cover. Saya akhirnya memilih untuk tidak keluar dari Australia, dan merelakan tidak ter-cover asuransi selama beberapa bulan terakhir di sana.

Adapun asuransi yang waktu itu saya ambil adalah asuransi perjalanan Adira dengan nama ‘Travellin’ (https://travellin.co.id/). Preminya di tahun 2016 dengan diskon promosi adalah sekitar 3,5 juta Rupiah untuk 1 tahun (sekadar info: ada pilihan premi yang lebih rendah). Memang tidak murah, tetapi lebih murah dari biaya asuransi kesehatan di Australia. Ditambah dengan perasaan aman – meski hanya untuk 6 bulan saja. Jika Anda memiliki trik lain terkait asuransi, mohon kesediannya untuk berbagi lewat komentar di bawah post ini.

Terakhir mungkin terkesan cukup remeh sekaligus pelit. Hahaha. Jangan lupa persiapkan colokan listrik yang sesuai dengan standar di Australia. Juga berbagai perlengkapan elektronik remeh yang sebaiknya disiapkan di Indonesia karena jauh lebih murah. Tempat favorit saya pribadi untuk berburu barang murah meriah tersebut adalah situs https://www.jakartanotebook.com/. Namun untuk masalah handphone, tidak perlu khawatir jika harus mengganti handphone karena di Australia harga handphone relatif sama seperti di Indonesia. Hanya untuk perlengkapan elektronik yang remeh-remeh tadi yang agak sulit menemukan yang murahnya.

 

Penutup

Sekian tulisan saya mengenai apa dan bagaimana mengajukan lamaran Work & Holiday Visa ke Australia. Mohon maaf jika informasinya tidak sepenuhnya lengkap. Anda bisa melengkapi informasinya dari berbagai blog dan ulasan dari penulis lainnya.

Semoga saja tulisan ini bisa sedikit membantu Anda. Dan jika ada pertanyaan terkait topik ini silakan dikirim lewat kolom komentar di bawah. Saya coba bisa bantu sebisa saya.

Dan sekali lagi, good luck untuk aplikasinya!

 

 

Advertisements

6 thoughts on “Work & Holiday Visa Australia: Apa & Bagaimana

  1. Halo, nama saya Kartika. Mau nanya, untuk WHV australia ini pada saat pertama kali datang di sana, apakah ada syarat harus tinggal di kota besar terlebih dahulu selama beberapa bulan awal kedatangan? Atau kita bebas menentukan kota mana yang dituju? Terima kasih.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s