Pengurusan Visa Wisata / Turis ke Tiongkok (Cina) untuk Pejalan Independen Indonesia

Masih tentang edisi persiapan perjalanan di Asia Timur. Dimulai dari dua negara yang ternyata pejalan Indonesia berkesempatan menikmati fasilitas bebas visa, yaitu: Jepang dan Taiwan. Kemudian berlanjut ke pengurusan visa Korea yang cukup mudah karena tidak diwajibkan melampirkan tiket pulang-pergi (yang merupakan preferensi saya pribadi, sebagai pejalan independen).

Dan kini, giliran negeri tirai bambu. Cina, atau dalam tata bahasa terkini sering dirunut sebagai ‘Tiongkok’.

Mengurus paspor Tiongkok sebenarnya tidak sulit. Malah tergolong yang termudah. Banyak yang menyebutkan bahwa pelamar Indonesia nyaris-hampir pasti dikabulkan permohonannya.

Namun dalam konteks keperluan saya, ada satu kendala yang cukup menohok. Dalam banyak ulasan disebutkan bahwa pejalan harus melampirkan bukti tiket pesawat pulang pergi. Nah, ini adalah tantangan bagi saya, memiliki preferensi untuk mengembara secara fleksibel.

“Pejalan independen”-lah, kurang lebih deskripsinya meski tidak sepenuhnya pas. Dengan istilah tersebut, saya maksudkan pejalan yang tidak mengikuti tur, tidak memiliki sanak famili atau sponsor di sana (sehingga tidak melampirkan ‘surat undangan’ dari warga Tiongkok), berbekal perencanaan mandiri yang fleksibel – termasuk tanggal dan titik masuk-keluar.

Nah, dalam tulisan kali ini saya akan sedikit menyelipkan trik untuk menyiasati kebutuhan administrasi dengan keperluan pejalan yang ingin independen.

Mari kita mulai!

 

Macam-Macam Visa Tiongkok Kategori ‘L’ (Turis / Wisata)

Pertama-tama mari mengenali jenis visa. Ada berbagai macam kategori visa Tiongkok, dan yang dibahas di sini adalah kategori ‘L’, visa turis atau tourist visa. Kategori visa turis sendiri bisa dibagi-bagi lagi jenisnya. Secara umum, jenisnya adalah: single entry, double entry (atau double entries merunut pada website), multiple entry (multiple entries).

Sama seperti kebanyakan visa negara lainnya, yang membedakan dari setiap jenis entry tersebut adalah… betul, harga. Hahaha. Silakan cek tabel di bawah ini untuk masing-masing harganya, berikut kecepatan pemrosesan yang berbanding lurus dengan harganya. Agar tidak bingung, kolom paling penting adalah kolom “Total Fee”. Tautan resminya dapat dilihat di sini.

Dan tentu saja, selain harga, variabel pembeda terpenting dari jenis visa tersebut adalah frekuensi yang diperbolehkan untuk menginjakkan kaki di Tiongkok. Single entry hanya diperkenankan sekali masuk-keluar, double entry tentu saja dua kali, dan multiple untuk berkali-kali.

Berdasarkan pengalaman diskusi saya dengan mbak petugas, lama periode yang diberikan per sekali masuk adalah 30 hari. Saya juga sempat menanyakan, apakah mungkin untuk mendapatkan lebih dari sekadar teman 30 hari –  seperti 60 hari dalam visa single entry misalnya? Menurut mbaknya, hal tersebut tidak dimungkinkan dan disarankan untuk mengambil visa double entry dengan masa tinggal yang sama (2 x 30 = 60).

Sedangkan untuk multiple entry, saya tidak tahu persis syaratnya. Tetapi merunut ke proses pengajuan visa Korea yang pernah saya tempuh, di sana pejalan diwajibkan setidaknya pernah mengunjungi Korea satu kali, di samping syarat lainnya. Tetapi sekali lagi, itu adalah prosedur pada tujuan Korea bukan Tiongkok.

 

Persyaratan Visa Tiongkok

Tentang dokumen yang diperlukan, sebenarnya relatif mudah. Lebih mudah dari Korea Selatan yang memerlukan surat referensi bank dan dokumen pendukung bukti keuangan. Visa Tiongkok tidak memerlukan itu, dan secara umum hanya perlu dokumen identitas serta rencana perjalanan saja.

Berikut adalah rincian persyaratannya:

  • Paspor asli dan fotokopi (halaman identitas dan halaman belakang paspor, serta visa/cap negara yang pernah dikunjungi) dengan masa berlaku setidaknya 6 bulan
  • Formulir pengajuan visa yang diisi secara online dan 2 pas foto 48mm x 33mm (latar putih)
  • Fotokopi visa Tiongkok sebelumnya jika pernah punya
  • Fotokopi KTP, Kartu Keluarga, dan Akta Nikah (jika sudah menikah)
  • Bukti tiket pesawat dan hotel, atau ‘surat undangan’

 

Mengenai paspor, berdasarkan pengalaman Penulis ketika itu petugas hanya mengecek paspor terbaru pejalan. Tetapi tidak ada salahnya bersiap-siap membawa paspor lama jika diperlukan.

Untuk mendapatkan formulir, pejalan harus mengisi secara online di https://www.visaforchina.org dan mencetaknya. Ketika saya mengajukan permohonan, di loket sempat terlihat ada pengumuman yang mengatakan bahwa kini petugas hanya menerima versi online lalu dicetak. Tidak lagi versi tulisan tangan.

Sedangkan tentang foto, ukuran yang diperlukan adalah 48mm x 33mm. Tidak kurang, tidak lebih. Background-nya adalah putih dan tidak diperkenankan menggunakan baju warna putih. Untuk persyaratan foto lengkapnya, dapat dicek di halaman situs sesaat sebelum mulai mengisi formulir online.

Sekadar cerita drama, foto saya dalam proses pengajuan sempat sedikit bermasalah. Karena ketika itu saya menggunakan baju berwarna biru muda dan oleh pihak pencetak pas foto warnanya agak dicerahkan. Sehingga baju saya terlihat agak putih!

Mbak petugas sempat menyarankan untuk mengganti fotonya, tetapi karena waktu yang mendesak (hanya sekitar 1 minggu sebelum keberangkatan ke Taiwan), saya terpaksa tidak bisa menyanggupinya. Akhirnya saya pun mengambil resiko bahwa ada kemungkinan pengajuan ditolak. Tetapi syukurlah ternyata permohonannya diterima. Lesson learned: gunakan baju gelap untuk latar pas foto berwarna putih!

Terakhir adalah persyaratan tiket pesawat dan akomodasi. Nah, informasinya agak simpang siur. Di halaman pengisian formulir online sendiri tidak ditemukan secara eksplisit tentang kewajiban melampirkan ini. Namun ternyata di halaman lain, ada persyaratan yang mewajibkan hal ini. Begitu juga dengan petugas, yang meminta dokumen ini sebagai salah satu persyaratan.

Untuk akomodasi, tentu triknya sudah diketahui secara luas. Pejalan hanya perlu melakukan pemesanan via OTA (Online Travel Agency), yang populer di antaranya Agoda dan Booking.com. Mereka bahkan memiliki fitur ‘free cancellation’ yang memudahkan pejalan untuk memesan dan membatalkan pesanan dalam jangka waktu tertentu.

Sedangkan mengenai tiket pesawat, sebagian orang mungkin memiliki kendala terhadap hal ini. Saya pun sempat kesulitan, karena ingin mempertahankan fleksibilitas perjalanan. Untuk itu saya akan sedikit berbagi tips yang sudah menjadi rahasia ‘agak’ umum untuk menyiasati hal tersebut di paragraf-paragraf selanjutnya, bukan paragraf tepat setelah ini.

 

Prosedur, Lokasi, dan Waktu Pengajuan Visa

Perlu digarisbawahi (*sudah pak…), bahwa pengajuan visa Tiongkok harus dilakukan lewat agen atau Chinese visa application center – kita singkat visa center. Bukan lewat kedutaannya langsung.

Proses ini agak mengingatkan saya pada proses pengajuan visa Work & Holiday ke Australia. Meskipun tidak seribet dan seketat di sana.

Usai melengkapi persyaratan dokumen yang diperlukan (termasuk pengisian formulir online yang sudah dicetak), pejalan bisa datang ke kantor visa center. Lokasinya di gedung The East, yang jika tidak salah juga merupakan kantor dari Net TV. Ada kemungkinan bertemu artis jadinya! *meskipun saya tidak menjumpai satu pun

Jam operasi kantor ini dari jam 9 – 3 sore untuk pengumpulan visa. Sesampainya di sana, pelamar hanya perlu mengambil antrian dan duduk manis menunggu. Tidak seperti pengalaman sebelumnya ketika melamar visa negara lain, proses visa Tiongkok ini tergolong cepat. Tidak sampai 10 menit, saya sudah duduk di depan loket untuk menyerahkan dokumen persyaratan. Padahal waktu itu saya tidak datang pagi-pagi, sekitar jam 2-an.

Petugas lalu akan mengecek persyaratan dokumen. Mudah-mudahan lengkap. Jika tidak, maka pelamar akan diminta melengkapinya. Maka meskipun tidak diharuskan datang pagi-pagi, tetapi ada baiknya pelamar datang agak siang, dengan maksud memiliki waktu antisipasi jika ada kekurangan.

Usai urusan dokumen selesai, maka pemohon akan diberikan tanda terima. Dalam pengalaman saya, prosesnya memakan waktu 4 hari kerja (termasuk hari pemasukan dokumen) atau 3 hari kerja (tidak termasuk hari pengumpulan dokumen).

Di hari yang ditentukan, pejalan bisa datang di antara pukul 9 – 4 sore untuk pengambilan dan pembayaran. Prosesnya lebih cepat lagi ketimbang pengajuan. Hanya menyerahkan tanda terima, lalu melakukan pembayaran, dan diberikan lembaran untuk pengambilan visa. Selesai!

Paspor bertempelkan stiker visa Tiongkok pun kini ada dalam genggaman Anda!

 

Sekadar cerita tambahan, sebelumnya saya sempat kepikiran untuk melamar visa Tiongkok ini di luar negeri. Entah itu di Jepang atau Korea (tetapi tidak di Taiwan, karena hubungan diplomatik kedua negara tidak dalam kondisi yang baik). Alasannya karena saya tidak tahu pasti jadwal keberangkatan ke Tiongkok, sedangkan pihak visa center memerlukan hal tersebut sebagai persyaratan.

Namun setelah mencari tahu, dari situs visa center Tiongkok di Jepang tertulis bahwa yang berhak mengajukan permohonan adalah warga Jepang atau warga asing yang secara jangka panjang menetap di Jepang. Sedangkan mereka yang hanya tinggal sementara di Jepang (termasuk turis sepertinya) hanya diperkenankan untuk mengajukan dari negara asalnya.

Maka saya pun membatalkan niat tersebut. Namun beruntung, karena saya berhasil menemukan trik untuk menyiasati persyaratan tiket pulang-pergi. Seperti yang sudah dijanjikan, ulasan tersebut bisa dibaca di paragraf di bawah ini.

 

Trik Untuk Tiket Pulang-Pergi?

Tentang tiket pesawat, sebenarnya saya sendiri kurang yakin bahwa diwajibkan untuk memiliki tiket yang sudah ‘confirmed’ (atau apa lah istilahnya untuk tiket yang bukan sekadar booking tetapi sudah dibayar). Untuk menyiasatinya, pejalan bisa melakukan apa yang disebut dummy booking, kurang lebih dapat kita artikan ‘booking-boneka’ atau ‘booking bohong-bohongan’.

Kata ‘bohongan’ tersebut bukan dalam artian ilegal. Tetapi ‘bohongan’ karena meskipun tiket bersifat ‘valid’ dan resmi dikeluarkan oleh otoritas yang berwenang, tetapi tiket ini belum dapat digunakan untuk terbang.

Hal yang perlu dicermati dari proses ini adalah nomor ‘PNR’, kependekan dari ‘Passenger Name Record’. Jadi ini adalah kode yang memuat data identitas Anda dan penerbangan Anda. PNR ini terdiri dari 6 karakter, dan kemungkinan besar inilah yang dicek petugas penerima permohonan visa, petugas imigrasi, atau bahkan petugas maskapai yang ingin memastikan bahwa Anda tidak hanya sekadar ‘masuk’ ke negara tujuan tetapi juga akan ‘keluar’ nantinya.

Sayangnya, tidak semua maskapai atau OTA melampirkan nomor PNR. Implikasinya, pejalan harus memilih maskapai atau OTA yang memungkinkan memberikan kode PNR, bukan sekadar kode booking.

Beberapa di antaranya adalah Thai Airways dan Emirates. Serta ada satu OTA yatra.com dari India yang menawarkan fitur ‘Hold For Free’ dan memberikan nomor PNR.

Rata-rata maskapai dan OTA tersebut memberikan waktu selama 3 hari untuk melakukan pembayaran. Dan itu adalah waktu yang cukup untuk merampungkan proses visa Tiongkok.

Saya tidak menjamin trik yang dijelaskan di atas akan selalu diterima. Tetapi ini adalah apa yang sudah saya lakukan, dan berhasil. Plus, saya kira tidak melanggar hukum karena tidak melakukan apapun yang ilegal untuk mendapatkan nomor PNR.

Ini hanyalah sekadar trik untuk ‘memegang tiket valid selama 3 hari – secara gratis’.

 

Tambahan Cerita tentang Tiket Pesawat

Satu hal yang perlu juga diperhatikan tentang syarat tiket ini adalah pejala harus melampirkan ‘tiket keluar Indonesia’. Bukan hanya ‘tiket masuk ke Tiongkok’.

Jadi dalam kasus saya, tiket yang dilampirkan ketika itu adalah jurusan Malaysia – Tiongkok karena memang saya akan berangkat dari Malaysia. Dan ternyata petugas meminta bukti tiket keluar dari Indonesia yang belum saya miliki ketika itu.

Petugas pun memberi saran untuk sekadar booking terlebih dahulu, dan dilampirkan segera. Iya, hanya booking dan bukan tiket yang sudah confirmed seperti dibahas sebelumnya. Saya pun segera melakukan pemesanan lewat OTA, dan mencetaknya. Saya pun menyerahkan lembaran tiket booking tanpa nomor PNR, dan ternyata dokumen tersebut diterima!

Nah, dari pengalaman itu saya menangkap kemungkinan lain terkait kewajiban tiket ini. Apakah ini berarti bahwa sebenarnya pejalan boleh melampirkan tiket sekadar booking-an saja? Bukan tiket yang (seolah-olah) confirmed dengan nomor PNR-nya? Atau ada toleransi untuk penerbangan yang tidak langsung menuju Tiongkok?

Entahlah. Saya tidak bisa dapat memberikan jawaban yang pasti. Tetapi saya bisa mengurutkan alternatif dokumen tiket berdasarkan tingkat keamanan. Dimulai dari yang paling aman atau memiliki resiko paling kecil ditolak:

  1. Tiket yang sudah dipesan dan dibayar
  2. Tiket dummy dengan nomor PNR
  3. Tiket pemesanan tanpa nomor PNR

Seperti itu ulasan berikut trik terkait pemesanan tiket untuk keperluan pengajuan visa Tiongkok.

 

Tempat Fotokopi dan Print di Sekitar Visa Center: Jalan Perintis!

Satu info trivial di penghujung tulisan. Dalam proses pengajuan, saya sempat sedikit kelabakan karena harus melengkapi kekurangan dokumen yaitu tiket keluar dari Indonesia serta fotokopi halaman belakang paspor. Apalagi ketika itu jam sudah menunjukkan pukul 2 lebih, kurang dari 1 jam sebelum pengajuan ditutup pada pukul 3 sore.

Penulis pun spontan bertanya pada petugas di mana saya bisa mengopi dan mencetak dokumen di sekitar kantor Visa Center. Dan dia memberi tahu bahwa ada tempat nge-print di sekitar Jalan Perintis, tidak jauh dari gedung The East. Lega!

Usai menyelesaikan print, saya pun kembali ke gedung, kembali mengantri, dan melanjutkan proses pengajuan. Lalu petugas mengatakan, “kopi halaman belakang paspornya mana?”

Aduh!

Tapi beruntung, ternyata di kantor Visa Center itu ada mesin fotokopi yang dibantu operasikan oleh pak satpam di sana. Tidak murah memang, jika tidak salah ingat sekitar 1,000 Rupiah per lembar. Tapi untuk keperluan mendesak dan mungkin mereka yang tidak peduli dengan harga, tempat fotokopi tersebut bisa menjadi pilihan.

Saya pun sebenarnya tidak paham, mengapa sang mbak petugas tidak menyarankan saya langsung ke tempat fotokopi yang dioperasikan satpam tersebut. Mungkin karena muka saya terlihat begitu kere, sehingga diasumsikan akan rela berjalan kaki di tengah siang terik untuk menghemat beberapa ribu Rupiah. Atau karena mesin tersebut tidak bisa mencetak dokumen (meskipun ada komputer di sana). Bisa jadi juga.

Lagi-lagi entahlah, saya tidak tahu apa alasannya. Tetapi yang pasti saya bersyukur akan kehadiran kedua tempat tersebut.

Oh iya, Jalan Perintis yang dimaksud berada di barat gedung The East. Sekitar 300 meter. Pejalan hanya tinggal terus berjalan kaki di atas trotoar yang kurang ramah bagi pejalan (atau malah tanpa trotoar). Hingga menemukan beberapa kios fotokopi dan rental komputer.

 

 

Rangkuman

Dari ulasan yang cukup panjang di atas, saya coba rangkumkan beberapa poin penting terkait  prosedur visa turis Tiongkok:

  1. Pengurusan dilakukan bukan di kedutaan Tiongkok
  2. Melainkan di agen pengurusan visa Tiongkok (visaforchina.org). Pada Juli 2017, lokasinya di Jakarta berada di gedung The East – kawasan Kuningan.
  3. Tidak diperlukan surat referensi bank dan dokumen yang menunjukkan status keuangan lainnya
  4. Diperlukan dokumen pendukung berupa tiket pulang-pergi dan akomodasi di sana

 

Sedangkan untuk visa-nya sendiri, berikut adalah informasi esensialnya:

  1. Kecil kemungkinan untuk mendapatkan single entry visa dengan lama periode tinggal 60 hari
  2. Yang lebih mungkin adalah mendapatkan double-entry visa dengan masa tinggal masing-masing 30 hari (2×30 hari)
  3. Jika kebetulan mengajukan double-entry, maka lama periode tinggal yang diperkenankan adalah 30 hari per sekali masuk. Sedangkan periode visa berakhir dalam waktu 6 bulan

 

Seperti itulah ulasan saya tentang persyaratan, prosedur, serta trik dalam mengajukan permohonan visa Tiongkok. Seperti biasa, jika ada pertanyaan mohon dipastikan sudah membaca ulang tulisan ini. Siapa tahu ada informasi yang terlewat. Jika memang tidak ada, silakan mem-posting di kolom komentar dan mudah-mudahan saya bisa membantu.

Semoga lancar aplikasi visa Tiongkok-nya!

 

Referensi:
http://visaforchina.org/

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s